Goa Kreo, Sam Po Kong, dan Masjid Agung Jawa Tengah

simpang lima semarang via jempolkaki.com
simpang lima semarang via jempolkaki.com

Wisata Semarang Part II, bagian pertamanya ada disini, Adzan subuh berkumandang. Kita bangun dan segera bersiap sholat subuh berjamaah. Setelah sholat kita bergiliran mandi sembari menyiapkan sarapan pagi. Ini tips, selalu sempatkan makan dulu sebelum bepergian untuk mengurangi pengeluaran, makan ditempat wisata itu mahal. Hehe.

dok pribadi
dok pribadi

Sampai di Sam Po Kong waktu sudah mendekati pukul 10. Sempat bekeliling, mengambil beberapa foto dan selabihnya hanya melihat orang berlalu lalang. Udara Semarang terlalu panas untuk berkeliling, jauh beda dibandingkan Solo, stay cool. hehe.

Setalah puas hanya dengan duduk dan melihat, mendekati pukul sebelas kita keluar untuk menuju tempat selanjutnya, tempat yang ditunggu – tunggu, Masjid Agung Jawa Tengah.

Masjid Agung Jawa Tengah

dok pribadi
dok pribadi

MAJT (Masjid Agung Jawa Tengah) baru diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tanggal 10 November 2006, meski sejak bulan Maret 2004 Masjid ini sudah digunakan. Di pelataran MAJT terdapat 6 payung raksasa otomatis, yang dulunya hanya dibuka saat event – event besar, seperti sholat Ied pada hari raya. Terdapat pula menara Al Husna, menara setinggi 99 meter, terdapat museum didalamnya, lantai 18 digunakan untuk melihat view Kota Semarang.

Sekitar pukul sebelas kita sampai MAJT, hal pertama yang kita lakukan adalah menuju menara. Setelah membeli tiket kita antri untuk measuki lift. Antrian bisa dibilang lumayan. Singkat cerita sampailah dipuncak tower, lantai 18. Terdapat teropong disana, dengan memasukkan koin serribuan kita bisa melihat dari teropong selama dua atau satu menit, lupa, yang jelas cuma sebentar. Tentunya aku sempatkan untuk mencoba teropong juga, antri dibelakang anak – anak kecil. huhehe

MAJT via blog.misteraladin.com
MAJT via blog.misteraladin.com

Setelah puas melihat – lihat kita turun ke lantai tiga dan dua, melihat lihat koleksi museum, Museum Perkembangan Islam Jawa Tengah, didalamnya terdapat banyak koleksi yang berhubungan dengan perkembangan islam di Jawa Tengah, dari mulai mushaf, gamelan, artefak kapal dagang, kitab-kitab karya ulama besar jawa, miniatur menara kudus, pakaian santri jaman dahulu, bahkan rempah – rempahpun ada.

Puas berkeliling kita menuruni tangga, keluar dari menara Al-Husna menuju pelataran MAJT, berfoto ria sambil melihat sekeliling, dari enam payung raksasa terdapat beberapa yang sudah rusak, tampak sudah lama tidak difungsikan, sangat disayangkan. Saat asik bekeliling, adzan dzuhur berkumandang, kitapun segera berwudhu dan memasuki masjid.

Selesai sholat, kita beristirahat, tidur dimasjid kurang lebih 30 menit, sambil nunggu proses kirim foto, kita bertukar koleksi foto. Kemudian melanjutkan perjalanan menuju tempat makan murah meriah didaerah tembalang, Undip.

Makan Siang Super

via www.photo365.co
via www.photo365.co

Perjalanan siang yang macet dan panas luar biasa. Sempat terjadi cekcok dengan pengguna jalan lain karena kemacetan, singkat cerita sampailah kita ketujuan, Ayam Geprek Djogjakarto cabang 5, aneh memang nama Djogjakarto tapi lokasi di Semarang, ah sudahlah. Tentunya kamu yang kuliah di Undip tidak asing dengan tempat ini. Hanya dengan 10 ribu dapat ayam goreng ples es teh jumbo, dengan porsi nasi sepuasnya.

Tempat makan ini semi prasmanan. Kita ambil piring, kemudian isi nasi sendiri, pilih ayam dan serahkan ke petugas untuk menggeprek ayam beserta sambal, dihancurkan beserta tulang – tulangnya. Kami pun segera antri, dengan empat teman didepanku. Petugas restoran bertanya, “Cabai nya kasih berapa mas?”.

Teman pertama, “Sembilan ya mas.”, sadiss! doyan pedes dianya. Segera petugas memasukkan sembilan cabai beserta bawang putih, garam dan bumbu lainnya, menguleknya hingga menjadi sambal, kemudian memasukkan ayam, digepprek biar pedas sampai ke akarnya. Dan mengembalikan sambal ples ayam gepreknya ke piring teman saya yang sudah berisi nasi. Siap santaaap!

“Empat aja mas”, “Lima mas cabe nya”, “Tujuh ya mas”, “Cukup satu aja mas”. Berturut turut jawaban teman – temanku ketika ditanya petugasnya. Yang terakhir menjawab tentunya aku. Cukup satu saja. Huehe, gak kuat.

Selesai makan kita langsung meluncur pulang ke masjid tempat Mas Syifa tinggal. Kita yang dari solo segera berberes untuk pulang. Sekalian capeknya langsung otw solo biar cepat sampai rumah, istirahat. Tentunya sebelum pulang tak lupa kita mengucapakan terima kasih ke Mas Syifa.

Upss, sekian berkahir sudah wisata Kota Semarang. perjalanan pulang berjalan lancar, tanpa kendala suatu apapun. Kita tiba di rumah dengan selamat, Alhamdulillah.

Leave a Comment